JANGAN MENYALAHKAN TAQDIR

JANGAN MENYALAHKAN TAQDIR

Manusia tidak boleh menyalahkan takdir sebagai alasan untuk tidak beribadah dan berusaha. Seorang tidak boleh berkata, “Jika aku telah ditakdirkan baik dan beriman, mengapa aku harus bersusah payah beribadah dan beramal saleh? Bukankah sudah pasti aku akan masuk Surga?”. Seorang juga tidak sepantasnya berkata, ”Jika aku telah ditakdirkan menjadi kafir, apakah manfaatnya jika aku berusaha menjadi mukmin? Bukankah yang kulakukan akan sia-sia, karena takdir telah menetapkan bahwa aku akan masuk neraka?”.

Kata-kata seperti itu jelas keliru dan tidak boleh diucapkan. Tidak sewajarnya kita mengatakan, ”Jika nasibku telah ditentukan dan ditetapkan sejak lahir, apa untung dan ruginya bila aku bekerja keras dan beribadah sekarang ini?”. Contoh yang paling baik untuk kita renungkan adalah cerita Nabi Adam as. dengan Iblis la’natullah. Iblis menyalahkan takdir yang menyebabkannya durhaka kepada Allah. Kemudian ia menjadi kafir dan dikeluarkan dari rahmat Allah dan diusir dari sisi-Nya.

Nabi Adam as pun mengakui kesalahannya. Beliau menganggap kesalahan itu adalah tanggung jawabnya sendiri. Kemudian ia memohon ampun kepada Allah swt. Maka beliau mendapat rahmat dan ampunan Allah swt. Jangan kita mengorek qadha dan qadar Allah. Nabi Uzayr pernah mempersoalkan asal usul kejadian makhluk, kemudian mematikannya dan menghidupkannya kembali. Maka Allah swt kemudian mematikannya selama seratus tahun.

Kemudian Dia menghidupkannya kembali seperti sebelum hidup di dunia dan sekali lagi mematikannya. Semua dilakukan agar menjadi i’tibar bagi manusia. Apabila di dunia ini kita menemukan orang-orang yang berbuat dosa, seperti mencaci Allah, munafik, menyekutukan Allah, mempermainkan hukum-hukum Allah, merendahkan kalam Allah, dan sebagainya yang secara zahir jahat dan keji, janganlah semua itu membuat iman kita goyah atau lemah.

Itu adalah semua ujian dari Allah untuk kesabaran kita dan pelajaran dari Allah tentang orang-orang yang disesatkan Allah. Sebaiknya kita mendoakan semoga Allah memberi taufiq dan hidayah kepada orang tersebut. Insya Allah kita akan terhindar dari sifat dan perbuat tercela seperti yang dilakukan orang tersebut, karena Rasululllah saw pernah bersabda: ”Doa seorang muslim untuk saudaranya sesama muslim dari kejauhan tanpa diketahui olehnya akan dikabulkan. Di atas kepalanya ada malaikat yang telah diutus, dan setiap kali ia berdoa untuk kebaikan, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan amin dan kamu juga akan mendapat seperti itu.” (HR Muslim).

Ketahuilah bahwa semua kebaikan yang kita perbuat bukan berasal ’dari’ kita sendiri, tetapi sebenarnya hanya ’melalui’ diri kita. Tegasnya, tanpa taqdir Tuhan tidak ada yang dapat kita perbuat. Jadi, takdir atas pekerjaan dan kejayaan kita datangnya dari Allah. Apabilah kita bersalah, kesalahan itu adalah hak atau milik kita agar kita mengenal arti bertaubat. Kesalahan itu datang dari angan-angan dan niat yang wajar dari ego kita.

Jika kita memahami hal ini dan mengikuti petunjuk-Nya, kita termasuk dalam golongan manusia yang di Firmankan Allah: ”Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiayai diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosanya, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa itu selain Allah? Dan mereka tidak melanjutkan perbuatan keji itu. Sedangkan mereka mengetahui”. (QS Ali ’Imran : 135). Dalam Kitab Al-Hikam karangan Syeikh Ibn Athoillah tertulis: ”Keinginanmu untuk lepas dari urusan duniawi, padahal Allah membekalimu dengan sarana penghidupan, adalah syahwat yang samar.

Sedangkan keinginanmu untuk mendapatkan sarana penghidupan, padahal Allah telah melepaskanmu dari urusan duniawi, adalah suatu kemunduran dari cita-cita luhur”. Disini kita diajarkan agar ridha atas peran yang telah Allah takdirkan kepada kita. Orang yang ditakdirkan Allah menjadi karyawan jadilah karyawan yang baik, yang menjadi petani jadilah petani yang baik, yang menjadi aparatur negara jadilah aparatur negara yang bertanggung jawab dan adil, yang menjadi pengusaha jadilah pengusaha yang jujur dan dapat menafkahkan hartanya di jalan Allah, yang jadi ulama jadilah ulama yang dapat menyinari dan menuntun umat dari kegelapan kepada jalan yang terang.

Jika kita tidak ridha dan berpanjang angan-angan terhadap peran lain dari yang telah Allah tetapkan berarti kita telah memperturutkan syahwat yang samar. Yang harus dilakukan adalah bersungguh-sungguh memfokuskan niat, perhatian dan perjuangan pada Allah, yang ada di balik semua wujud dan kejadian. Sehingga apapun yang kita lakukan menjadi lahan ibadah kepada Allah dan segala potensi yang ada kita sujudkan untuk menyembah Allah. Syeikh Ibn Athailah dalam Al Hikam mengatakan, “Salah satu tanda bergantung pada amal adalah berkurangnya harapan tatkala gagal”.

Jika kita berasumsi bahwa sumber kekuatan di balik usaha-usaha kita adalah diri kita sendiri, kita akan kecewa kala hasilnya tak sesuai dengan harapan-harapan kita. Tetapi, kalau kita benar-benar berserah diri kepada Allah, maka kita akan melihatnya satu asal dan penyebab dibalik usaha, peranan pribadi kita dalam melaksanakannya dan juga hasilnya. Kegagalan kemudian hanya akan kita anggap sebagai peringatan untuk memperkuat kesadaran pada kehendak, rahmat dan kemurahan Allah.

Di mata orang yang tercerahkan, terdapat kesatuan total dalam usaha dan hasil. Kalau kita sudah mempunyai keyakinan seperti tersebut, insya Allah kita tak akan sombong dan angkuh jika berhasil dalam kehidupan dunia dan berputus asa jika gagal dalam kehidupan ini. Syeikh Ibn Athailah lebih lanjut mengatakan: “Ketika Allah membukakan pintu pengertian bagimu tentang penolakan-Nya, maka penolakan itu pun berubah menjadi pemberian”.

Maksudnya, kita menyaksikan ke-Mahakuasaan-Nya ketika diberi nikmat dan melihat Keindahan dan Kelembutan-Nya ketika diberi nikmat. Yang penting adalah penyaksian, bukan keadaannya. Yang diinginkan oleh orang yang mendapatkan nur ilahi bukan keduanya, karena fokus perhatiannya adalah pada Sumber seluruh wujud, Pencipta seluruh makhluk, yang Kemurahan-Nya melampaui apa yang tampak sebagai kesempitan atau kelapangan, karena Kemurahannya ada dalam setiap waktu dan keadaan.

”Ketika Allah memberimu, Dia memperlihatkan kepadamu belas kasih-Nya. Ketika Dia menolak memberimu, maka Dia memperlihatkan kepadamu kekuasaan-Nya. Dan dalam semua itu, Dia memperkenalkan diri kepadamu dan menghadapmu dengan kelembutan-Nya.” Janganlah kita membanggakan zikir, sholat, shodaqoh, zakat, haji dan amaliah lainnya, karena itu semua adalah pertolongan Allah, bersyukurlah kepada-Nya karena banyak yang mempunyai kemampun fisikal, harta dan waktu tidak diberikan pertolongan oleh Allah untuk melakukan perbuatan baik tersebut.

Janganlan bangga jika dipuji orang, karena sesungguhnya Kasih Allah telah menutupi aib kita sehingga orang hanya melihat kebaikan kita tanpa melihat aib kita. Janganlah marah ketika dihina orang, karena itu adalah pertolongan Allah agar kita memperbaiki kesalahan kita atau memperbaiki kekurangan amaliah kita dan agar kita menjadi orang yang lebih sabar. Sebagai pribadi janganlah kita mencemooh dan menganiaya orang yang berbuat dosa, melainkan serahkan kepada hukum yang berlaku untuk tegaknya ketertiban dalam masyarakat. Berilah nasihat dengan bijaksana kepada orang-orang yang tingkatannya dibawah kita.

Janganlah memberi nasihat dengan ilmu, tetapi lakukanlah dengan kasih sayang, agar hatinya tidak liar. Kepada orang yang sebaya atau setingkat sampaikan kebenaran dari Allah dengan ilmu yang tidak menggurui. Kepada orang yang lebih tinggi dari kita sampaikan kebenaran dari Allah dengan tetap memelihara kerhormatannya. Ada baiknya kita ambil pelajaran dari dialog Nabi Adam dengan Nabi Musa, dalam hadist Rasulullah SAW: Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, ”Rasulullah SAW telah bersabda, ‘Adam dan Musa alaihima salam tengah berdebat di sisi Allah.

Namun akhirnya Adam dapat mengalahkan Musa alaihi salam’. Musa berkata, ‘Kamulah Adam yang telah diciptakan Allah dengan kekuasaan-Nya. Kemudian Allah menghembuskan ruh-Nya ke dalam dirimu. Setelah itu, Allah memerintahkan semua malaikat-Nya untuk bersujud kepadamu dan Dia menempatkanmu di dalam surga-Nya, tetapi kemudian kamu membuat manusia turun ke bumi karena kesalahanmu.’ Adam menjawab, ‘Kamulah Musa yang telah dipilih Allah dengan risalah dan firman-Nya. Allah juga telah memberimu beberapa lembaran yang berisi penjelasan tentang segala sesuatu dan mendekatkanmu untuk menerima firman-Nya.

Berapa tahunkah Allah telah menulis kitab Taurat sebelum aku diciptakan?’ Musa Mejawab, ‘Empat puluh tahun,’ Adam bertanya lagi, ‘Apakah kamu dapatkan, di dalam kitab taurat, ayat yang berbunyi: ’…dan durhakalah Adam kepada Tuhannya serta sesatlah ia.’ (QS Thaahaa 20:121)’ Musa menjawab, ‘Ya,’ Adam bertanya lagi, ‘Mengapa kamu mencelaku karena suatu perbuatan yang telah ditetapkan Allah azza wa Jalla empat puluh tahun sebelum Allah menciptakanku?’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Akhirnya Adam dapat memberikan jawaban kepada Musa,’” (HR. Muslim) Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari dialog Nabi Adam dan Nabi Musa tersebut, agar kita tidak mencela orang yang berbuat dosa.

Kita harus bersikap egaliter terhadap semua hamba Allah. Di dalam hati nurani orang yang menapaki tarekat, Mahabbah dan Ma’rifat tidak sepantasnya memiliki kebencian dan kesombongan di dalam hatinya, karena kesombongan hanya pantas dimiliki oleh Allah. Karena kesombonganlah Iblis dilaknat Allah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: