HIKMAH TIGA KATA

HIKMAH DI BALIK TIGA KATA DALAM ALQUR’AN

Melihat dalam Bahasa Arab disebut dengan tiga kata yang berbeda yaitu (ra’a), (nazhara) dan (bashara). Ra’a adalah melihat dengan mata kepala biasa. Orang bisa saja ditanya: “Apakah anda melihat anak saya?”, dan menjawabnya dengan: “Oh iya, tadi ada di sini”, “Kemana dia sekarang?”, “Entah ya, saya tak memperhatikannya”, “Pakai baju apa dia tadi?”, “Waduh, saya juga tak memperhatikannya”. Itulah contoh dari ra’a, melihat tapi tak memperhatikan. Yang terekam darinya hanya bayangan bentuk. Adapun nazhara adalah melihat dengan penuh perhatian, menatap lebih tepatnya. Kalau ra’a dalam bahasa Inggris disebut to see, maka nazhara disebut dengan to look at.

Seorang guru berbahasa Inggris tidak akan berkata kepada murid-muridnya, “See Me!” tetapi “Look at Me!” (buat apa kalau hanya dilihat tapi tidak diperhatikan). Dengan nazhara bukan saja bayangan bentuk yang terekam tapi juga proses atau peristiwa yang terjadi. Yang lebih kuat lagi adalah bashara yang bahasa Inggrisnya to observe, melihat dengan penuh perhatian seraya memikirkannya; mencermati, begitu istilah tepatnya dalam bahasa Indonesia.

Ada anekdot, ketika seorang penerjun payung melompat dari pesawat terbang ternyata payungnya tidak terbuka. Ia mencoba menarik payung cadangan yang ada di depannya, ternyata gagal juga. Akhirnya penerjun payung itu meluncur deras ke bumi tanpa satupun payung yang terbuka. Semua penonton yang menatapnya (nazhara) menahan nafas, mencemasi apa yang sedang dan akan terjadi. Penerjun itu jatuh terjerembab ke aspal, mati. Tungkai kakinya melesak masuk ke rongga perut sehingga tubuhnya kelihatan lebih pendek.

Para penonton bercerita kepada orang-orang yang tidak menyaksikannya: “Penerjun itu mati karena terhempas ke permukaan tanah yang beraspal”. Tapi apa kata dokter yang mengotopsinya? Setelah melakukan pembedahan dan memeriksa organ-organ dalam tubuh peterjun itu, sang dokter berkesimpulan: “Begitu menyadari bahwa dirinya meluncur tanpa payung yang terbuka, penerjun itu demikian takutnya. Saking takutnya sehingga terjadi serangan pada jantungnya. Ia mati akibat serangan jantung karena ketakutan sebelum terhempas ke bumi”.

Penonton memang melihat apa yang terjadi dengan penuh perhatian (nazhara) tapi tidak sampai melakukan pencermatan yang mendalam (bashara) untuk bisa memahami sebab-sebab kejadian dan hubungan (logika) dengan akibatnya. Hanya dengan bashara orang bisa memahami hikmah, tujuan, manfaat, latar belakang, motivasi, nilai dan makna suatu peristiwa. Binatang boleh melihat dan menatap (ra’a dan nazhara) tapi tidak bisa mencermati (bashara). Basharah (kemampuan mencermati) adalah fungsi luhur ruhaniah yang Allah SWT berikan pada qalbu manusia dan jin. Ia bukan semata fungsi fisik biologis tapi lebih merupakan fungsi spiritual.

“Dan jika kamu sekalian menyeru (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk, niscaya berhala-berhala itu tidak dapat mendengarnya. Dan kamu melihat berhala-berhala itu memperhatikanmu padahal ia tidak mencermati”, (QS. Al-A’raaf, 7:198)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: